Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Warga Ribut di Mako Polresta Diamankan Bersama Sajam dan Panah

Jayapura, - merasa tidak terima karena orang tuanya sedang dimintai keterangan 14 warga Kampung Koya Koso melakukan aksi keributan di Mapolres Jayapura Kota,  Senin (13/11) malam.

Perwira Urusan Humas Polreata Jayapura Kota, Iptu Jahja Rumra menuturkan keributan yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut lantaran mereka salah paham,  dimana pemikiran mereka AS yang merupakan orang tua  mereka di tangkap oleh polisi.


"Mereka berpikir bahwa orang tua  mereka di tahan,  padahal hanya dimintai keterangan oleh anggota kami lantaran telah melakukan pemalangan, dia (AS)  dijemput paksa ke rumahnya karena sudah dilakukan pemanggilan beberapa kali tapi tidak memenuhi panggilan yang dilayangkan penyidik, "jelansya, Senin (13/11) malam.

Kata Jahja saat keributan yang dilakukan oleh sekelompok warga dengan membawa Panah dan Senjata Tajam pihak kepolisian sempat memberikan tembakan peringatan lantaran aksi mereka saat itu sedang berlari-lari dari arah Bank Papua menuju Polresta sambil membawa parang dan panah lalu berteriak-teriak hingga ada yang  nekat melepaskan satu buah anak panah kedalam  Kantor Polisi.

"14 warga itu sudah kami amankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut sementara barang bukti berupa dua bilah parang,  panah dan anak panah sudah diamankan oleh penyidik untuk dikembangkan lebih lanjut", ungkapnya.

Kata Jahja 14 warga yang melakukan keributan masing-masing berinisial DS(19),  SS (12),  YL(23), MS (23),  MHS (20),  AM (13),  SS (13),  SA (19),  OP(27), DL(23), RL(33),  DT(36),  HH(22) yang saat ini semuanya dalam pemeriksaan untuk menentukan keterlibatan mereka dan pidana apa yang akan diterapkan terkait perbuatan yang mereka lakukan.

"Semuanya masih dalam pemeriksaan,  nantinya pun dari mereka  akan tetapkan sebagai tersangka karena terkait dengan kepemilikan senjata tajam senjata penusuk", tegasnya

Sementara keributan dilakukan oleh sekelompok warga terjadi sekitar Pukul 19:00 WIT, dimana saat itu pihak kepolisian sedang dalam menjalankan tugas sehingga dengan sigap kelompok warga yang membuat keributan langsung diamankan bersama alat tajam dan panah dan dimintai keterangan oleh Penyidik. (*)

Penulis : Subhan
Editor   : J.Rumra
Publish : Arifin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...