Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Polisi Bekuk Pelaku Judi dan Pemilik Sangkur

Jayapura,-Satuan Reserse Kriminal Polres Jayapura Kota yang dipimpin oleh Kasat Reskrim AKP Agus Kuswanto,SH telah melakukan  penangkapan terhadap pelaku perjudian jenis domino yang dilakukan oleh warga dilapangan Pasar Youtefa distrik Abepura. Minggu (29/10) pukul 17.00 wit.

Kasat Reskrim ketika dikonfirmasi oleh Humas Polres Jayapura Kota diruang kerjanya membenarkan adanya penangkapan tersebut, ia bersama anggotanya berhasil mengamankan L (24) Tahun dengan Barang bukti 28 lembar kartu domino dan uang tunai Rp 420.000.- (empat ratus dua puluh ribu rupiah) sedangkan rekan L yang ikut main melarikan diri saat melihat kedatangan petugas.

Kata Reskrim mengatakan "kami lakukan  penangkapan terhadap pelaku   lantaran  mendapatkan informasi adanya warga yang sering  bermain judi disekitar TKP dan juga terkait pelaksanaan operasi penyakit masyarakat yang diberi sandi Ops Pekat yang berlangsung saat ini kemudian anggota mendatangi tempat tersebut dan menangkap serta mengamankan pelaku dan barang bukti".Kata Kasat.

Kasat juga menambahkan bahwa selain menangkap pelaku judi saudara L, anggotanya juga berhasil membekuk saudara P (27) tahun terkait kepemilikan Senjata Tajam, Kasat mengatakan P ditangkap lantaran saat anggotanya sedang menangkap pelaku L tiba-tiba P masukan tangan kebalik bajunya hendak mengeluarkan senjata tajam yang ada di badannya maka anggota dengan sigap membekuk P bersama barang bukti satu bilah pisau Sangkur dan digelandang ke ruang tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya bersama L.

Kasat juga menegaskan bahwa keduanya telah dimintai keterangan atas perbuatan yang dilakukan dengan tuduhan kasus Perjudian oleh saudara L sebagaimana dimaksud dalam pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara, sedangkan pelaku P di jerat dengan pasal kepemilikan Senjata tajam tanpa ijin sebagaimana dimaksud dalam undang-undang Darurat no. 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara. (*)

Penulis : Subhan
Editor   : J.Rumra
Publish : Roygen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...