Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Jaksa Nyatakan Lengkap Penyidik Limpahkan Tersangka dan Barang Bukti

Jayapura,- Penyidik Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Jayapura Kota telah melakukan pelimpahkan tersangka dan barang bukti ( Tahap II) kasus Perampokan Kantor Pegadaian Waena kepada Jaksa penuntut Umum (JPU) di kejaksaan Negeri Jayapura, Senin (23/10) siang.

Perwira Urusan Humas Polres Jayapura Kota Iptu Jahja Rumra ketika ditanya ia membenarkan pelimpahan keempat tersangka berikut barang bukti kasus perampokan Kantor Pegadaian Waena oleh Penyidik Satuan Reskrim Polres Jayapura kota kepada Jaksa penuntut Umum kejaksaan Negeri Jayapura. “rekan-rekan penyidik sudah limpahkan para  tersangka H, M, NM, H dan Barang bukti kepada JPU siang tadi untuk diproses di Pengadilan,”ujarnya Senin (23/10) siang.


Kata Jahja keempat tersangka ini baru dilimpahkan setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap Jaksa Penuntut setelah seminggu sebelumnya  Penyidik telah menerima Surat Pemberitahuan yang menyatakan hasil  Penyidikan sudah Lengkap ( P-21) dan dari hasil koordinasi baru hari ini dapat dilimpahkan, sedangkan satu tersangka lainnya berinisial OS sudah dilimpahkan oleh penyidik pada Senin pekan lalu.

“kelima tersangka semuanya sudah dilimpahkan untuk prosesi di meja Hijau dimana proses pelimpahannya  pada tahap awalnya satu tersangka yakni OS dan keempatnya baru di serahkan siang tadi oleh penyidik setelah penelitiannya lengkap,”tuturnya. Dirinya pun menuturkan dari hasil pemeriksaan kelima tersangka bahwa senjata Api didapat  dari kenalannya yang berada di Jawa Barat.

“Senjata yang dimiliki merupakan senjata illegal yang di beli di daerah Bogor,”tuturnya.
Iptu Jahja menambahkan Kelima Tersangka perampokan Kantor Pegadaian Waena pada hari Kamis, 10/08/17 lalu disangkakan Pasal berlapis yakni Pasal 365 dengan ancaman 12 Tahun penjara serta Undang-undang Darurat nomor 12 tahun 1951 karena memiliki senjata Api dengan ancaman 12 tahun penjara. (*)

Penulis : Subhan
Editor   : Roygen
Publish : Arifin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...