Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Kapolda Papua: Media Sosial Bisa Berdampak Buruk Jika Tidak Dikelolah dengan Baik


Pacenews.id – Perkembangan Tekhnologi yang sangat pesat di zaman sekarang semakin memudahkan manusia untuk melakukan aktifitasnya, tak hanya membawa dampak Positive tetapi juga dapat menimbulkan kehancuran bak bom nuklir jika tidak digunakan dengan baik.

Hal ini yang sudah sepatutnya menjadi tugas kita bersama dalam menjaga sekaligus mendidik generasi muda bangsa agar mampu dan siap memfilter hal-hal buruk dari kemajuan tekhnologi saat ini.


Kampus USTJ kota Jayapura dalam menyikapi hal tersebut menggelar seminar Kejahatan Dunia Maya atau Cybercrime dengan tema “Menghindari kejahatan duni maya serta menjadi pengguna internet yang cerdas”.

Turut hadir dalam seminar tersebut Kapolda Papua Irjen pol Drs Boy Rafli Amar MH, Kepala dinas Kominfo Kabupaten Jayapura Ir. Sambodo Sumiyono. Msi, Kabid Humas Polda Papua Kombes pol Drs A.M Kamal SH, Wakil Rektor IV USTJ Dr. Suyatno, Dekan, Dosen dan peserta seminar.

Kapolda Papua yang hadir sebagai pembicara di seminar tersebut mengatakan pengguna medsos sampai saat ini sudah mencapai 100 juta pengguna yang mana dunia Maya sudah berkembang menjadi dunia baru dan warganya juga disebut sebagai netizen, disana tumbuh sebagai budaya baru yang tentunya apabila dunia Maya ini yang disebut sebagai cyber space apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pelanggaran hukum.

“Disini kita belajar bagaimana memanfaatkan perkembangan teknologi informasi tetapi harus kita sadari bahwa apa yang kita lakukan di dunia maya ini sudah diatur dalam hukum publik” tambah Kapolda Papua.

Polda Papua juga beberapa waktu lalu sudah mengungkapkan kasus cyber crime seperti judi online di timika, pornografi melalui facebook, pornografi dan pemerasan melalui media sosial, pemerasan dan atau pengancaman melalui medsos, penghinaan dan atau pencemaran nama baik melalui Facebook.

Sebagaimana yang diamanatkan oleh UU ITE, pemerintah dan masyarakat mempunyai peran dalam meningkatkan pemanfaatan Teknologi Informasi melalui penggunaan dan penyelenggaraannya, diharapkan dibentuk komunitas-komunitas anti Hoax atau bijak bermedia sosial di Papua seperti yang telah dilakukan didaerah-daerah lain.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...