Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Green Deen (Islam Hijau)


Bumi adalah Masjid, selian di masjid kita bias shalat di mana pun yang bersih dan suci, agar dekat dengan Tuhan, ramah dengan Lingkungan dan saling menjaga satu sama yang lain di Planet ini.

Oleh: Moses Douw
Tulisan ini berawal dari kumpulan cerita, diskusi di beberapa tempat di Kota Study Yogyakarta. Salah satunya diskusi buku yang saya ikut yakni: Green Deen “ Dimana tanggung jawab umat beragama dalam melestarkan alam semesta?” di Kampus hijau UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bumi adalah dimana tempat kita tinggal dan menjalani aktivits sehari hari. Untuk memandang bumi ini kita selalu mengalami kesalahpahaman bahwa Bumi ini di Huni oleh makhluk hidup dan mati. Sehingga manusia selalu berpikir pada arah bangunan untuk melaksanakan shalat maupun ibadah dalam makhluk mati atau bangunan masjid.

Seiring dengan perkembangan pemikiran baru dan pemikiran tentang tempat ibadah yang mega dan mewah adalah sikap manusia yang hanya penyelewengan manusia dalam menjaga alam. Mengapa? Tentunya kini kita akan kenal Green Deen dalam mengingatkan kepada kita untuk bagaimana memanfaatkan alam, lingkungan dan tempat yang diciptakan Tuhan dengan gunakan sebaik baiknya untuk beribadah dan bagaimana dengan sikap baik manusia untuk melestarikan alam sebaik seperti Masjid. Sebab, mencintai bumi ini adalah mencintai pencipta-Nya.

Green deen adalah Islam hijau, atau agama hijau. Dalam Green Deen Abdul Matin menggambarkan bahwa “Deen Adalah sebuah Ideologi atau agama. Dengan artian bahwa “islam adalah deen. Kristen adalah Deen dan hinddu adalah deen; dll.

Konsep tentang Agama hijau menuntun kita untuk menerapkan islam seraya menegaskan hubungan integral antara keimanan manusia dengan lingkungan alam. Hal ini Green Shabia juga mengatakan “Apa yang kita miliki muslim bersifat komprehensif. Islam adalah jalan hidup yang secara spiritual bergizi dan secara intelektual koheren.” Sederajatnya manusia hidup diatas bumi ini sebagai nurani yang merupakan akal budi. Artinya bahwa manusia, Tuhan dan alam. Tiga dimensi yang tak kalah pisahkan oleh siapapun di bumi ini. Setiap orang harus menghormati Tuhan dan menjadi pelindung  atau penjaga Alam.

Dalam diskusi buku Green Deen, membahas enam pokok pembahasaan dengan prinsip Agama Hijau dan ini merupakan Himpun pemikiran Faraz Khan untuk Abdul Matin seperti yang dalam bukunya sebagai berikut: 1) Memahami Kesatuan Tuhan dan Ciptaan-Nya; 2) Melihat tanda-tanda Tuhan dimana saja; 3) Menjadi Penjaga di Bumi ini; 4) Menjaga kepercayaan Tuhan; 5) Berjuang menegakan Keadilan; 6) Menjalani kehidupan yang seimbang dengan alam.

Selain itu, dalam diskusi itu juga pemateri memaparkan Dampak Manusia Terhadap lingkungan sepertI limbah, Penggunaan Energi Seperti minyak dan sejenisnya, Air sebagai Sumber Kehidupan serta Makanan sebagai penyeimbang kehidupan.

Dengan ilmu disiplin terhadap lingkungan lebih menekankan apa yang umat Green Deen rusak terhadap bumi ini, Plestarian terhadap lingkungan dan bagaimana upaya yang Green Deen lakukan untuk Lingkungan Alam. Mengapa harus perhatihan terhadap Lingkungan? Tentunya mudah jawaban untuk itu, sebab Allah Ciptakan Semua pada pasanganya dan sempurnya. Dengan istilah bahwa “ Tuhan, Alam dan Manusia adalah suatu yang tidak di pastikan untuk berpisah. Tanpa Lingkungan yang Indah akan berpengaruh Kehidupan, begitupun Manusia tanpa Tuhan hanya mimpi belaka.

Tulisan ini hanya sebuah catatan, dan untuk Resensi Buku  “Green Deen” akan saya shere maka jangan lupa selalu ikuti tulisan-tulisan di: http://mosesdouw.blogspot.co.id/


Yogyakarta, 14 Mei 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...