Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Dipastikan Tahun Depan Selesai, Ruas Jalan Trans Papua dari Timika Sampai Wagete



Timika, Papuacenter – Rencana pembangunan ruas jalan Trans Papua dari Timika sampai Wagete di pastikan akan selesai pada tahun 2017 mendatang setelah sisa proyek yang dapat  diselesaikan sepanjang 6-7 kilometer.
Erick Fonataba sebagai Pejabat Pembuat Komitmen 27 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah VI Provinsi Papua mengatakan pembuatan ruas jalan Trans Papua antara  timika Sampai dengan Wagete ini akan diselesaikan pada tahun 2017 mendatang, namun hasrus  menyelesaikan sisa proyek yang tinaggal 6-7 kilometer.
“Saat  ini pekerjaan jalan telah masuk ke wilayah dataran tinggi dengan medan yang cukup berat melalui gunung-gunung dengan tingkat kemiringan yang cukup terjal. Sehingga dengan topografi seperti itu tentu tingkat kesulitannya tinggi. Untuk mengantisipasinya dengan mempersiapkan berbagai peralatan yang memadai,” ucapnya.
Erick juga menambahkan, Ruas jalan tersebut sudah dikerjakan sejak tahun 2007 dan total ruas jalan yang telah  diselesaikan sepanjang 168 kilometer. Awal start pembuatan jalan dari persimpangan Pelabuhan Rakyat (Pelra) Paumako menuju persimpangan Mayon Kuala Kencana sepanjang lebih dari 40 kilometer. Selanjutnya dari persimpangan Mayon menuju persimpangan Kapiraya sepanjang 71 kilometer dan dari arah simpang Kapiraya menuju ke lokasi sekarang sepanjang 38 kilometer.
Dari pembangunan jalan tersebut telah di bangun sejumlah jembatan dengan bentang ratusan seperti di Sungai Mimika, Sungai Kyura, Sungai Rawawe I dan 2 serta Sungai (Kali Kabur). Di Tahun ini  dilakukan pembangunan jembatan dan bisa diperkiran akan menjadi jembatan terpanjang di Timika  dengan panjang 300 meter.
Khusus dari persimpangan Mayon hingga persimpangan Kapiraya sudah dibangun dengan konstruksi beton tailing baru sekitar 44 kilometer, sisanya masih dalam jalan pengerasan tanah yang nantinya dijadikan jalan perkerasan dan konstruksi aspal.
Pembangunan Ruas jalan Trans Timika-Wagete merupakan program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang telah dibuat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2010. (red.dt)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...