Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Pertemuan Mediasi Laurenzius Kadepa (DPR Papua) dengan Sultan Yogya


Yogya, Papuacenter – Laurenzius Kadepa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan perwakilan mahasiswa Papua di Yogyakarta bertatap muka langsung dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X di kantor Gubernur DIY, pada hari Jumat (29/7).

Pertemuan ini, merupakan mediasi untuk insiden terkait mahasiswa Papua yang terjad beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Laurenzius berterima kasih kepada Gubernur Yogya sekaligus menitipkan pesan dari masyarakat Papua kepada Sultan.

“Atas nama DPR Papua, saya mengapresiasi Sultan, sebab berkat Yogya, banyak warga Papua jadi orang sukses dimana-mana,” ungkap Laurenzius.

Tak hanya itu, ia juga meminta Sultan agar menjaga warganya yang sedang ada di Yogya, baik untuk keperluan belajar ataupun yang lainnya.

“Tolong Sultan jaga rakyat saya baik-baik, sebagaimana saya jaga rakyat jawa di Papua dengan baik, di sana banyak orang jawa dapat posisi penting di pemerintahan maupun di swasta, dan mereka semua dalam kondisi baik, atas nama ini, itu, atau NKRI harga mati, tidak boleh ada rakyat saya jadi korban, NKRI harga mati bukan berarti rakyat sipil banyak mati,” pungkas Laurenzius dikutip dari CNN.

Menanggapi hal tersebut, dalam penuturan Laurenzius  Sultanpun meresponsnya dengan baik.

“Sultan terima itu, dia berkata, ‘Saya jamin.’” ucap Laurenzius.

Selanjutnya, adapun terkait ucapan Sultan soal separatis, Laurenzius melihatnya sebagai nasihat orang tua.

“Ucapan Sultan itu bahasa orang tua, itu nasihat. Tapi sikap mahasiswa (Papua) kan tidak bisa diintervensi. Itu hak mahasiswa karena mahasiswa adalah agen perubahan. Sesuatu yang mereka rasa buruk, mereka suarakan, tapi tidak hanya itu, Laurenzius juga menggaris bawahi bahwa menjadi agen perubahan itu perlu, namun tanpa harus ada unsur makar terhadap negara tercinta ini,” tutup Laurenzius. 

Pertemuan tersebut, semoga menjadi mediasi terciptanya kedamaian, kesadaran untuk saling mendukung menjaga persatuan NKRI. (Is/Pap)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

YANG DITINGGALKAN MANUSIA

Robi dan Kaleb dong dua sama-sama kelas 4 SD. Begini dong baru dapat pelajaran Bahasa Indonesia tenntang peribahasa. Waktu pulang sekolah, dong dua main tebak-tebakan pake peribahasa. Robi  : "Kaleb, ko tau kah tidak arti dari peribahasa ini ?" Kaleb : "Peribahasa apa...?" Robi : "Kalo gajah mati meninggalkan apa ?" Kaleb : "Gading too.." Robi : "Kalo Harimau mati, meninggalkan apa ?" Kaleb : "Pasti meninggalkan... belang," Robi : "Trus kalau manusia, mati meninggalkan apa?" Kaleb : "Pasti... meninggalkan nama too!" Robi : "Salah....!!" Kaleb : "Trus.. dia pu jawaban, apa?" Robi : "Kalo manusia mati... pasti meninggalkan dia pu bapa, mama, kakak, om, tante, bapade, mamade, bapatua, mama tu, nene, tete..."

Ini Perusahaan Tiongkok yang Ingin Bangun Smelter Papua

Jakarta — Papua Center : Sebuah perusahaan Tiongkok disebut ingin membangun pabrik pengolahan dan pemurnian alias smelter tembaga di Papua. Nama perusahaan itu disebut Non-Ferrous China Company (NFC). Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, R. Sukhyar mengatakan Non-Ferrous China Company (NFC) adalah investor yang bakal digandeng pemerintah daerah Mimika, Papua, untuk membangun smelter tersebut. Tapi Sukhyar menegaskan, jika NFC ingin terlibat dalam proyek smelter, perusahaan Tiongkok itu harus memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus. “Jadi kewenangannya ada di bawah kementerian ESDM. Yang pasti mereka bukan IUI (Izin Usaha Industri),” ujar Sukhyar di Jakarta, Senin (2/3/2015). Sukhyar menerangkan, proyek smelter tembaga di Papua akan memiliki kapasitas daya serap konsentrat 900 ribu ton per tahun.  Rencananya, pasokan konsentratnya sendiri berasal dari hasil pertambangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia di daerah Mimika. ...