Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Aku Hanya Ingin yang Terbaik untuk Papua


Secara ras, Papua memang beda dengan ras melayu. Papua merupakan ras melanesia, yang secara fisik bercirikan kulit hitam dan rambut kriting. Posisinya yang secara geografis berada di ujung timur Indonesia, membuatnya terhimpun dengan ras melanesia lainnya seperti warga Maluku dan warga NTT (Nusa Tenggara Timur) yang juga berkulit hitam dan berambut kriting. Lebih dari itu, ditinjau secara geografis, Papua juga terhimpun dengan saudara-saudaranya ras melanesia di luar batas negara. Secara geografis, sekalipun berbeda kenegaraan, Papua terhimpun dalam ras melanesia dengan PNG (Papua New Geanue), Vanuatu, Kep. Solomon, Fiji dan Keldonia Baru.

Atas ras melanesianya tersebutlah, sebagian kecil warga Papua, kini terjebak dalam rasisme atau kesukuan. Mereka merasa diri berbeda dengan bangsa Indonesia, karena menurut mereka Indonesia adalah ras melayu, jauh berbeda dengan mereka yang ber-ras-kan melanesia. Mereka merasa orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang berkulit putih, kuning langsat, sawo matang dan berambut lurus, berbeda dengan mereka yang berkulit hitam dan berambut kriting. Selain itu, mereka juga merasa bahwa dengan berbedanya ras tersebut, kebudayaan dan adat istiadat yang mereka miliki, juga jauh berbeda dengan kebudayaan dan adat istiadat Indonesia.

Dengan terjebaknya mereka ke dalam rasisme tersebut, mereka merasa tidak bangga tergabung ke dalam bangsa Indonesia yang pada kenyataannya, Indonesia memang bukanlah ras melanesia, namun juga bukan ras melayu. Indonesia bukanlah bangsa yang hanya terdiri dari suku Aceh, Alas, Devayan, Gayo, Batak, Minangkabau, Nias dan suku-suku lainnya yang hanya terhimpun dalam Pulau Sumatra, atau Indonesia juga bukanlah bangsa yang hanya terdiri dari suku Jawa, Sunda dan Betawi yang hanya terhimpun dalam pulau Jawa. Indonesia adalah bangsa majemuk, yang kaya akan ras, yang dengannya ia terbangun dari semua suku yang terhimpun dari semua pulau-pulau yang ada di Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua.

Untuk lebih memperkaya pengetahuan, berikut penulis lampirkan daftar suku bangsa Indonesia berdasarkan provinsi, yang disadur dari https://id.wikipedia.org.

Aceh : Suku Aceh, Alas, Devayan, Gayo, Haloban, Kluet, Lekon, Pakpak, Sigulai, Singkil, Tamiang, Minangkabau, Aneuk Jamee.

Sumatera Utara : Suku Batak Angkola, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Toba, Minangkabau, Melayu, Nias.

Kepulauan Riau : Suku Melayu, Suku Laut (Orang Laut/Orang Sampan), Orang Barok, Orang Bentan, Orang Bulang, Orang Galang, Orang Kanaq, Orang Ladi, Orang Laut Kappir, Orang Mantang, Orang Mepar, Orang Moro, Orang Muka Kuning, Orang Nanga, Orang Posik (Pusek/Persik), Orang Sebarok, Orang Sengkanak, Orang Sugi, Orang Tambus, Orang Teluk Nipah, Orang Trong, Etnis Tionghoa (Hainan, Hakka, Hokkien, Tiochiu).

Sumatera Selatan dan Bangka Belitung : Ameng Sewang, Anak Dalam, Bangka, Belitung, Daya, Musi Banyuasin, Musi Sekayu, Ogan, Enim, Kayu Agung, Kikim, Komering, Lahat, Lematang, Lintang, Kisam, Palembang, Pasemah, Padamaran, Pegagan, Rambang Senuling, Lom, Mapur, Meranjat, Musi, Ranau, Rawas, Saling, Sekak, Semendo, Pegagan Ilir, Pegagan Ulu, Penesak, Pemulutan.

Bengkulu dan Lampung
: Bengkulu, Pasemah, Kedurang Padang Guci, Rejang, Enggano, Kaur, Serawai, Lembak, Mulo-muko, Suban, Pekal, Batin, Pindah, Lampung.

Jakarta : Suku Betawi, Sunda, Jawa, Etnis Tionghoa, Batak, Minangkabau.

Jawa Barat dan Banten : Suku Sunda, Betawi, Badui, Jawa, Cirebon.

Jawa Tengah : Suku Jawa, Sunda.

Jawa Timur : Suku Jawa, Bawean, Tengger, Osing, Madura.

Kalimantan Barat : Suku Melayu, Dayak.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan : Suku Banjar, Dayak, Bugis.

Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara : Suku Banjar, Kutai, Berau, Dayak.

Bali dan Nusa Tenggara Barat : Suku Bali, Loloan, Nyama Selam, Trunyan, Bayan, Dompu, Donggo, Kore, Nata, Mbojo, Suku Sasak, Suku Sumbawa.

Nusa Tenggara Timur : Abui, Alor, Anas, Atanfui, Suku Atoni, Babui, Bajawa, Bakifan, Blagar, Suku Boti, Suku Bunak, Deing, Ende, Faun, Flores, Hanifeto, Helong, Kabola, Karera, Kawel, Kedang, Suku Kemak, Kemang, Kolana, Kramang, Krowe Muhang, Kui, Labala, Lamaholot, Lemma, Lio, Suku Manggarai, Maung, Mela, Modo, Muhang, Nagekeo, Ngada, Noenleni, Riung, Rongga, Rote, Sabu, Suku Sika, Suku Sumba, Tetun, Marae.

Sulawesi Utara dan Gorontalo : Bantik, Bolaang Uki, Borgo, Suku Gorontalo, Suku Kaidipang, Suku Minahasa, Suku Mongondow, Polahi, Ponosakan, Ratahan, Suku Sangir, Talaud, Tombulu, Tonsawang, Tonsea, Tonteboran, Toulour.

Sulawesi Tengah : Bada, Pamona, Bajau, Balaesang, Balantak, Banggai, Bungku, Buol, Dampelas, Dondo, Kahumamahon, Kaili, Muna, Tomia, Wakotobi, Wawonii, Kulawi, Saluan.

Sulawesi Tenggara : Buton, Tojo Una-una, Tolaki (Kota Kendari, Kab : Konawe, Konewe Selatan dan Utara), Moronene (Kab. Bombana), Labeau, Tomboki, Wuna (Kab. Muna), Wolio(Kab.Buton/Kota Bau-Bau), Mekongga (Kab. Kolaka/Kolaka Utara), Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko (Kab. Wakatobi).

Sulawesi Barat : Pattae, Mandar, Dakko, Pannei, Pattinjo.

Sulawesi Selatan : Bentong Duri, Luwu, Makasar, Massenrempulu, Bugis, Duri, Daya Selayar, Toala, Toraja, Oro dipedalaman Bone selatan (Bonto Cani), Bajo di pesisir Teluk Bone, Pulau Sembilan Sinjai, Selayar.

Maluku dan Maluku Utara : Alune, Ambon, Aru, Babar, Bacan, Banda, Bulli, Buru, Fordata, Galela, Gane, Gebe, Halmahera, Haruku, Jailolo, Kei, Kisar, Laloda, Leti, Lumoli, Maba, Makian, Mare, Memale, Moam, Modole, Morotai, Nuaulu, Pagu, Patani, Pelauw, Rana, Sahu, Sawai, Seram, Taliabo, Tanimbar, Ternate, Tidore, Tobaru, Tobelo, Togutul, Wemale, Wai Apu, Wai Loa, Weda.

Papua dan Papua Barat : Aero, Airo Sumaghaghe, Airoran, Ambai, Amberboken, Amungme, Dera, Edopi, Eipomek, Ekagi, Ekari, Emumu, Eritai, Fayu, Foua, Gebe, Gresi, Hattam, Humboltd, Hupla, Inanusatan, Irarutu, Isirawa, Iwur, Jaban, Jair, Kabari, Kaeti, Pisa, Sailolof, Samarokena, Sapran, Sawung, Wanggom, Wano, Waris, Watopen, Arfak, Asmat, Baudi, Berik, Bgu, Biak, Borto, Buruai, Kais, Kalabra, Kimberau, Komoro, Kapauku, Kiron, Kasuweri, Kaygir, Kembrano, Kemtuk, Ketengban, Kimaghama, Kimyal, Kokida, Kombai, Korowai, Kupul, Kurudu, Kwerba, Kwesten, Lani, Maden, Sawuy, Sentani, Silimo, Tabati, Tehid, Wodani, Ayfat, Yahrai, Yaly, Auyu, Citak, Damal, Dem, Dani, Demisa, Demtam, Mairasi, Mandobo, Maniwa, Mansim, Manyuke, Mariud Anim, Meiyakh, Meybrat, Mimika, Moire, Mombum, Moni, Mooi, Mosena, Murop, Muyu, Nduga, Ngalik, Ngalum, Nimboran, Palamui, Palata, Timorini, Uruway, Waipam, Waipu, Wamesa, Yapen, Yagay, Yey, Anu, Bas.




  Dari apa yang dipaparkan oleh wikipedia.org terkait suku-suku yang menghuni wilayah Indonesia, terlihat dengan jelas bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk, yang kaya akan ras, yang merupakan himpunan dari suku-suku yang tergabung di dalamnya. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa melayu, juga bukanlah bangsa melanesia. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa batak, bangsa dayak, atau bangsa-bangsa lainnya, namun Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari semua bangsa itu. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari bagngsa melanesia, melayu, sunda, jawa, batak, dayak dan bangsa-bangsa lainnya, sebagaimana yang sudah ditulis sebelumnya.

Hanya saja, sayangnya, dengan adanya rasisme atau kesukuan yang terjadi kepada sebagian warga pribumi Papua, kini mereka menuntut kemerdekaan, yang dalam hal ini mereka bermaksud menginginkan Papua yang berdiri sendiri sebagai sebuah negara dan terpisah dari Indonesia. Mereka ingin mendirikan sebuah negara Papua, yang mana di dalamnya hanyalah orang-orang Papua (ras melanesia) saja. Sungguh hal ini disayangkan, dan tentu tidak bisa dibiarkan.

Sikap rasisme ini, muncul karena adanya sifat egois dan keidividuan. Sikap ini sangat berbahaya, karena hanya akan menimbulkan perpecahan. Bukan tidak mungkin, bagi orang-orang yang tervirusi oleh sikap rasisme ini, berikutnya akan terjebak ke dalam sikap keindividuan yang lebih sempit. Misalnya, Papua yang terdiri banyak suku, pada akhirnya nanti akan saling berperang antra suku tersebut dikarenakan adanya persaingan kesukuan di antara mereka. Selain itu, dengan sikap ini, akhirnya bisa menimbulkan perpecahan antar orang pegunungan dan orang pantai, antar orang Jayapura dan Timika, antar orang Biak dan Sorong, dan seterusnya. Dengan demikian, sikap rasisme ini tidak bisa dibiarkan.

Kita, dan juga terutama mereka, harus menyadari bahwa dalam hidup ini, kita semua diwarnai dengan penuh keberagaman. Kita dan mereka harus menyadari bahwa perbedaan suku dan ras, adalah salah satu warna dari keberagaman kehidupan ini. Dengan demikian, kita dan mereka akan menyadari betapa pentingnya persatuan di antara keberagaman ini. Terlebih dari itu, kita semua harus bangga dengan semua itu. Dengan demikian pula, kita semua harus bangga dengan keberagaman ras bangsa kita, bangsa Indonesia. Dengan keberagaman yang kita miliki, kita telah memiliki identitas tersendiri, yang unik dan khas. Kita sebagai bangsa yang majemuk ini, dengan bangga telah memiliki rasa persatuan, yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh bangsa-bangsa di negeri-negeri yang lain.
Untuk itu, mari kita senantiasa jaga persatuan ini, mari kita jaga Papua untuk keutuhan bangsa yang kaya, bangsa Indonesia. SAVE PAPUA FOR NKRI !!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

YANG DITINGGALKAN MANUSIA

Robi dan Kaleb dong dua sama-sama kelas 4 SD. Begini dong baru dapat pelajaran Bahasa Indonesia tenntang peribahasa. Waktu pulang sekolah, dong dua main tebak-tebakan pake peribahasa. Robi  : "Kaleb, ko tau kah tidak arti dari peribahasa ini ?" Kaleb : "Peribahasa apa...?" Robi : "Kalo gajah mati meninggalkan apa ?" Kaleb : "Gading too.." Robi : "Kalo Harimau mati, meninggalkan apa ?" Kaleb : "Pasti meninggalkan... belang," Robi : "Trus kalau manusia, mati meninggalkan apa?" Kaleb : "Pasti... meninggalkan nama too!" Robi : "Salah....!!" Kaleb : "Trus.. dia pu jawaban, apa?" Robi : "Kalo manusia mati... pasti meninggalkan dia pu bapa, mama, kakak, om, tante, bapade, mamade, bapatua, mama tu, nene, tete..."

Khasiat Daun Sirih Hijau

Daun sirih yang dikenal ada 3 jenis, yaitu sirih merah, sirih hitam dan sirih hijau. Namun yang paling banyak dikenal dan digunakan dimasyarakat adalah daun sirih merah dan hijau, yang bisa dibedakan hanya dengan melihat warna daunnya. Daun sirih pada umumnya banyak ditemui ditanam dipekarangan orang yang hidup dipedesaan, dimana mereka masih banyak menggunakan obat dari bahan alami termasuk sirih serta untuk keperluan nyirih. Namun setelah khasiat sirih diketahui secara ilmiah, kini daun sirih sudah banyak dijadikan sebagai bahan untuk sabun kesehatan, obat kebersihan kewanitaan, minyak sirih dll. Khasiat daun sirih Hijau Sirih merah maupun sirih hijau sama-sama memiliki khasiat masing-masing. Dan khusus pada artikel ini, kita hanya akan membahas khasiat dari daun sirih hijau. Dan mengenai khasiat sirih merah, ada artikel tersendiri, baca disini. Menurut literatur, daun sirih hijau mengandung banyak senyawa yang berkhasiat bagi kesehatan. Beberapa kandungannya meliputi minyak esensial...