Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Goliath Tabuni, Tunjukkan Jalan Yang Benar Kepada OPM, KNPB Dkk, dengan Kembali Ia Ke Pangkuan NKRI


Suatu karunia yang luar biasa, Goliath Tabuni yang selama ini dikenal sebagai pemimpin tertinggi (Panglima Perang) OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang begitu kuat mempertahankan ideologi OPM, akhirnya iapun kini kembali menyatakan diri sebagai bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ia bersama anak buahnya yang berjumlah sekitar 23 orang yang selama ini hidup kesusahan di dalam hutan, akhirnya kembali berbaur dengan masyarakat. Mereka tidak lagi kelaparan dan kesusahan, kini mereka tinggal di tempat yang layak sebagaimana masyarakat yang lainnya.

OPM memang ideologi yang keliru, ideologi yang muncul dari rasa keputus asaan. Bertahun-tahun keberadaannya di atas gunung, Goliath Tabuni akhirnya menyadari bahwa ideologi OPM tidaklah benar. OPM hanyalah sebuah organisasi yang meyakini ideologi atas dasar keputus asaan, putus asa karena merasa tidak mendapatkan keadilan dan kesejahteraan. Mereka meyakini bahwa bangsa serumpunnya bangsa Papua, selama ini hidup termarginalkan, hidup kesusahan dan kurang mendapatkan perhatian pemerintahan. Padahal, tidaklah demikian adanya. Akhirnya, Goliath Tabuni bersama anak buahnya, sebagaimana Nicholas Jouwe yang bahkan sebagai pendiri OPM pertama kalinya, akhirnya menyadari bahwa selama ini mereka hanyalah terbutakan oleh ideologi itu.
Kini, mereka menyadari bahwa selama ini, Pemerintah telah memberikan perhatian yang begitu besar untuk bangsa Papua. Otsus (Otonomi Khusus) misalnya. Dari namanya saja, sudah tergambar jelas bahwa Papua telah diberikan keistimewaan secara khusus. Yang mana itu artinya, bangsa Papua telah mendapatkan perhatian secara khusus, mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.

Kenyataanpun, membuktikan demikianlah adanya. Hari ini, dapat kita rasakan bersama kemajuan bangsa Papua. Wilayahnya semakin maju, fasilitas-fasilitas semakin membaik, gedung-gedung, mall-mall, hotel-hotel dan lain sebagainya kini sudah terbangun hampir di seluruh wilayah Papua. SDM (Sumber Daya Manusia)-nya pun demikian. Kini, bukan satu dua orang lagi bangsa asli Papua yang menjadi ikon Negeri. Banyak pejabat pemerintahan yang berasa dari Papua, kaum intelektual, artis dan lain sebagainya. Nowela-lah misalnya, tidak tanggung-tanggung, ia bahkan menjadi number-one dalam laga idol. Atau dalam misal lainnya, seperti Muhamad Rivai Darus. Seorang Pemuda asli Papua, yang menjadi kebanggan negeri. Belum lama ini, ia baru saja terpilih sebagai ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia).

Sejatinya, Papua mampu bangkit, mampu maju bersama-sama dengan saudara-saudaranya yang lain dari seluruh pelosok negeri. Papua mampu menjadi bangsa yang besar, bangsa yang bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Papua bukanlah bangsa yang kecil, bangsa yang menginginkan permusuhan serta keterceraiberaian. Tuhan-pun tidak menyukai perpecahan. Bangsa Papua sebagai bangsa yang taat pada Tuhan, sudah selayaknya mencintai persatuan, sebagaimana perintahNya.

Kini, Goliath Tabuni bersama anak buahnya telah kembali ke dalam pemikiran yang benar, bersatu dalam keluarga besar NKRI. Ia telah menunjukan jalan yang semestinya. Untuk itu, kepada pihak-pihak yang kini masih menginginkan terpisahnya Papua dari NKRI, agar segera sadar  dan mengikuti jekjak Goliath Tabuni. Organisasi-organisasi seperti KNPB (Komite Nasional Papua Barat), ULMWP, dsb... semoga segera tercerahkan dengan jalan yang telah ditunjukkan oleh Goliath Tabuni bersama anak buahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...