Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Peta Dunia Jika Semua Es Bumi Mencair


Es disekitar kutub utara dan kutub selatan membentuk 10 persen dari seluruh permukaan planet kita, dan bumi diperkirakan berisi lima juta mil kubik air beku – jadi apa yang akan terjadi jika semua es yang ada di bumi mencair?
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, National Geographic telah menciptakan serangkaian peta interaktif yang menunjukkan bencana apa yang akan terjadi jika semua es yang ada di bumi mencair dan mengalir ke samudera dan lautan.
Pencairan seluruh es yang ada di bumi dapat menyebabkan permukaan air laut naik 65,8 meter, menenggelamkan kota-kota, bahkan negara-negara dan secara drastis mengubah bagaimana benua dan garis pantai terlihat serta memusnahkan seluruh populasi.

Jika es mencair, seluruh dunia akan terpengaruh. Di Eropa, kota-kota termasuk London dan Venesia akan hilang di bawah air, demikian juga seluruh negara Belanda dan sebagian besar Denmark. Hal ini juga akan menyebabkan laut Mediterania meluas dan membengkakkan laut Hitam dan laut Kaspia.

Para ilmuwan percaya bahwa akan memakan waktu sekitar 5.000 tahun untuk suhu agar naik cukup signifikan untuk melelehkan semua es di planet ini, tapi dengan pemanasan global yang terjadi, kita sudah melihat awal dari bencana ini.
Selama satu abad ini, laporan menunjukkan bahwa suhu bumi telah meningkat sekitar setengah derajat Celcius dan menurut US Environmental Protection Agency ( EPA ), ini telah menyebabkan permukaan air laut naik sekitar tujuh inci.
Konsentrasi terbesar es di Bumi ditemukan di Greenland dan Antartika tetapi juga ditemukan pada puncak gunung dan di daerah lain.
Lapisan es di Antartika timur misalnya, begitu besar dan mengandung sekitar 80 persen dari semua es yang ada di planet ini dan ukurannya telah terlindungi sejak periode pemanasan terakhir dalam sejarah Bumi.
Yaitu saat zaman Eosen – periode suhu global meningkat yang berlangsung 55,8 ± 0,2 hingga 33,9 ± 0,1 juta tahun yang lalu.
Selama periode waktu ini, sedikit atau tidak ada es hadir di bumi dan hanya ada sedikit perbedaan suhu di khatulistiwa dibandingkan dengan kutub.
Pemanasan laut sudah melelehkan lapisan es mengambang di barat Antartika dan sejak tahun 1992, National Geographic melaporkan lapisan es ini telah kehilangan sekitar 65 juta metrik ton es setiap tahun.
Lapisan es di Greenland dan Antartika barat telah menyusut secara signifikan selama Zaman Eosen terakhir dan jika temperatur meningkat dengan cara yang sama lagi, lapisan es di daerah ini bisa menghilang ke laut sepenuhnya.
Terakhir kali Bumi dalam keadaan bebas es adalah 34 juta tahun yang lalu selama zaman Eosen. Jika hal ini terjadi lagi, seluruh pesisir Atlantik di AS akan lenyap, memusnahkan Florida dan Gulf Coast. Sementara bukit di San Francisco akan menjadi pulau dan San Diego akan hilang selamanya.
Di Eropa, kota-kota termasuk London dan Venice akan hilang di bawah air, seperti yang akan terjadi di seluruh Belanda dan sebagian besar Denmark.
EPA mengklaim bahwa pengurangan es keseluruhan tergantung pada beberapa faktor , termasuk peningkatan gas rumah kaca dan bagaimana suhu global bereaksi terhadap peningkatan gas tersebut.

Konsentrasi terbesar es di Bumi ditemukan di Greenland dan Antartika. Pemanasan laut sudah melelehkan lapisan es yang mengambang di barat Antartika dan sejak tahun 1992, National Geographic melaporkan bahwa sekitar 65 juta metrik ton lapisan es mencair setiap tahun.

Kenaikan gas rumah kaca dapat disebabkan oleh manusia. National Geographic menjelaskan: “Jika kita membakar seluruh pasokan batu bara, minyak, dan gas yang ada di bumi, yang artinya menambahkan sekitar lima triliun ton lebih karbon ke atmosfer, maka kita akan membuat planet ini menjadi sangat panas dengan suhu rata-rata 26,6 derajat Celcius, jauh diatasn suhu rata-rata saat ini yang hanya 14,4 derajat Celcius. Tingginya Temperatur seperti itu akan menjadi terlalu panas bagi manusia.
Ini akan membuat Bumi bebas es untuk pertama kalinya sejak 34 juta tahun terakhir.
Jika hal ini terjadi , seluruh pesisir Atlantik di AS akan lenyap, memusnahkan Florida dan Gulf Coast. Sementara bukit di San Francisco akan menjadi pulau dan San Diego akan hilang selamanya.

Di timur, Sebagian Asia termasuk Cina dan Bangladesh akan benar-benar mengalami banjir besar, memusnahkan sekitar 760 juta orang berdasarkan jumlah penduduk pesisir. Penduduk India juga akan berkurang.

Sedangkan di Amerika Selatan, Amazon Basin dan Paraguay akan menjadi Atlantik inlet dan ini akan menghapus Buenos Aires, Uruguay pesisir, dan beberapa daerah Paraguay.

Amerika Selatan

Satu-satunya daerah yang akan bertahan adalah pegunungan yang membentang di sepanjang pantai Karibia dan Amerika Tengah.
Benua lainnya juga akan terpengaruh dan tetap mengalami perubahan garis pantai.
Di timur, sebagian Asia, termasuk China dan Bangladesh akan benar-benar banjir , memusnahkan sekitar 760 individu juta berdasarkan tingkat populasi saat ini. Bagian dari garis pantai India juga akan hilang dan terkikis pedalaman.

Afrika

Di Afrika, misalnya Mesir, Alexandria dan Kairo akan banjir tapi benua tidak akan kehilangan banyak lahannya jika permukaan laut meningkat. Namun National Geographic mengklaim bahwa meningkatnya temperatur bumi mungkin akan membuat sebagian besar daratan tak dapat dihuni oleh manusia.

Australia akan mendapatkan laut pedalaman (laut di tengah daratan) yang baru, tapi australia juga akan kehilangan banyak daerah pesisir saat ini, tempat di mana empat dari lima warga Australia tinggal.

Nah, Bagaimana dengan Indonesia? Lihatlah Petanya dibawah ini:

Tampak bahwa pesisir timur Sumatera seperti Riau, Jambi dan sebagian Palembang, Lampung akan terendam. Demikian juga sebagian kecil Pesisir barat Sumatera, menyisakan hanya daerah bukit barisan dan yang masih berupa daratan. Demikian Juga pulau Jawa. Jakarta, Semarang, Yogya, Surabaya pun akan tenggelam.
Sebagian besar selatan Kalimantan juga tenggelam bersama dengan sebagian besar selatan pulau Papua. Sulawesi pun akan terputus antara tengah dan utara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...