Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Misteri Raja-Raja Sumeria yang Berumur Sangat Panjang


Dari sekian banyak artefak yang luar biasa yang telah ditemukan dari situs-situs sejarah di Irak di mana kota-kota Sumeria pernah berdiri, yang paling menarik adalah Daftar Raja-Raja Sumeria atau King List, sebuah naskah kuno yang dicatat dalam bahasa Sumeria, berisi nama raja-raja Sumeria (Irak selatan kuno ) dari Sumeria dan dinasti-dinasti tetangganya, panjang masa pemerintahannya, dan lokasi “resmi” kerajaannya. Apa yang membuat artefak ini begitu unik adalah kenyataan bahwa daftar tersebut memadukan penguasa pra-dinasti yang tampaknya adalah mitos dengan penguasa yang benar-benar ada dalam sejarah yang diketahui.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Fragmen pertama dari teks-teks langka dan unik ini, adalah tablet paku berusia 4.000 tahun, ditemukan di awal 1900-an oleh ilmuwan Jerman-Amerika Hermann Hilprecht di lokasi Nippur kuno. Sejak penemuan Hilprecht, setidaknya 18 eksemplar daftar raja lainnya telah ditemukan, sebagian besar dari mereka berasal dari paruh kedua dinasti Isin ( 2017-1794 SM.). Tidak ada dari dokumen-dokumen tersebut yang identik. Namun, ada materi umum dalam semua versi daftar raja yang dapat disimpulkan bahwa mereka berasal dari rekening tunggal, sejarah Sumeria yang “ideal” .
Di antara semua contoh dari Daftar raja Sumeria, prisma Weld-Blundell yang berada di Museum Ashmolean di Oxford merupakan versi yang paling luas serta salinan paling lengkap dari Daftar Raja. Prisma setinggi 8-inci ini terdiri dari empat sisi dengan dua kolom di setiap sisi. Prisma ini diyakini awalnya memiliki spindle kayu yang melalui pusatnya sehingga bisa diputar untuk membaca keempat sisinya dengan mudah. Prisma ini berisi daftar para penguasa dari dinasti-dinasti antediluvian (“sebelum banjir besar”) hingga penguasa keempat belas dari dinasti Isin (1763-1753 SM).

Prisma Weld-Blundell

Daftar ini besar nilainya karena selain mencerminkan tradisi yang sangat tua, pada saat yang sama memberikan kerangka kronologis penting yang berkaitan dengan periode-periode yang berbeda dari para penguasa di Sumeria, dan bahkan menunjukkan keselarasan yang luar biasa dengan apa yang tertulis di dalam Kitab Kejadian (Genesis).

Peradaban Kuno Sumeria

Sumeria, adalah situs dari peradaban paling awal yang dikenal, yang terletak di bagian paling selatan Mesopotamia antara sungai Tigris dan Eufrat, di daerah yang kemudian menjadi Babilonia dan sekarang Irak selatan dari sekitar Baghdad hingga ke Teluk Persia.
Dari masa Milenium ke-3 SM, Sumeria adalah situs dari setidaknya dua belas negara kota yang terpisah: Kish, Erech, Ur, Sippar, Akshak, Larak, Nippur, Adab, Umma, Lagash, Bad-tibira, dan Larsa. Masing-masing negara terdiri dari kota berdinding (tembok sekeliling) dan desa-desa sekitarnya dan tanah, dan masing-masing menyembah dewanya sendiri, yang kuilnya berada di pusat kota. Kekuasaan politik awalnya milik warga, tapi, seiring persaingan antara berbagai negara-kota meningkat, maka institusi kerajaan pun mulai tumbuh di tiap-tiap negara-kota.

Rekonstruksi Kota Ur

Daftar raja Sumeria mencatat bahwa ada delapan raja memerintah sebelum Banjir Besar. Setelah Banjir Besar, berbagai negara-kota dan dinasti raja-raja mereka silih berganti saling mengalahkan dan menguasai kota-kota yang lain.

Mitos Sumeria Masa Lalu

Daftar raja Sumeria dimulai dengan asal muasal kerajaan, yang dipandang sebagai pemberian dewata: “kerajaan telah turun dari surga”. Para penguasa di dinasti awal digambarkan memerintah dengan periode pemerintahan yang sangat sangat panjang:
Setelah kerajan yang turun dari surga, kerajaan itu di Eridug. Di Eridug, Alulim menjadi raja; ia memerintah 28.800 tahun. Alaljar memerintah selama 36000 tahun. 2 raja ; mereka memerintah selama 64.800 tahun ….
Beberapa penguasa yang disebutkan dalam daftar awal, seperti Etana, Lugal-banda dan Gilgamesh, adalah tokoh mitos atau legenda yang kisah kepahlawanan mereka adalah subyek dari serangkaian kisah-kisah campuran Sumeria dan Babilon.
Total masa pemerintahan dari delapan raja awal pada Daftar Raja adalah 241.200 tahun dari saat kerajaan “turun dari surga” hingga saat “air bah” menyapu bumi dan sekali lagi “kerajaan diturunkan dari surga” setelah air bah.
Mengapa Bangsa Sumeria menggabungkan penguasa mitos dengan penguasa yang benar-benar ada dalam sejarah yang sebenarnya dalam satu dokumen?
Salah satu jawaban yang mungkin terletak pada sejarah awal Sumeria. Kota-kota seperti Kish, Ur, dan Akshak (semuanya kota dengan dinding sekeliling) awalnya berdaulat lengkap dengan dewa-dewa mereka sendiri, dan kekuasaan politik milik rakyat. Tapi seiring persaingan antar kota meningkat, institusi kerajaan mulai muncul dan mengambil alih, sehingga pandangan yang berlaku adalah bahwa dokumen tersebut menjadi alat politik untuk memperkuat hegemoni agama dan politik antara kota-kota, menyediakan pembenaran bagi penguasa untuk menyatukan mereka dalam satu peradaban.

Interpretasi masa pemerintahan yang sangat panjang

Masa pemerintahan yang luar biasa panjang dari raja-raja awal telah menimbulkan banyak upaya penafsiran. Salah satu penafsiran mengatakan bahwa angka-angka besar yang menunjukkan masa pemerintahan dari raja-raja sebelum banjir “benar-benar karangan belaka” dan tidak layak dipertimbangkan secara serius. Penafsiran yang lain mengatakan bahwa angka-angka tersebut benar-benar nyata dan bahwa raja-raja awal adalah dewa atau alien yang mampu hidup lebih lama daripada manusia.
Di antara dua penafsiran ekstrem diatas ada hipotesis yang menafsirkan bahwa masa pemerintahan yang luar biasa panjang tersebut hanyalah angka-angka yang mewakili kebesaran, kejayaan dan keberhasilan. Misalnya, di Mesir kuno, kalimat “dia meninggal pada usia 110″ artinya adalah seseorang yang menjalani kehidupannya dengan memberikan kontribusi penting kepada masyarakat. Dengan cara yang sama, periode yang sangat panjang pemerintahan raja-raja awal dapat mewakili betapa pentingnya mereka di mata rakyat. Bagaimanapun hipotesis ini tidak menjelaskan, mengapa periode setelah banjir besar beralih ke jangka waktu yang realistis.
Terkait dengan perspektif ini ada keyakinan bahwa meskipun tidak ada bukti-bukti sejarah yang mendukung keberadaan raja-raja awal dalam Daftar Raja, hal ini tidak menghalangi kemungkinan bahwa mereka mungkin memang penguasa real yang kemudian seiring lamanya waktu berlalu menjadi mitos.

Kaitannya dengan Kitab Kejadian (Genesis)

Beberapa sarjana (misalnya Wood, 2003) telah memberikan perhatiannya pada fakta bahwa ada kesamaan yang luar biasa antara Daftar Raja Sumeria dengan yang tertulis dalam kitab Kejadian. Misalnya, Genesis menceritakan kisah ‘banjir besar’ dan upaya Nuh untuk menyelamatkan semua spesies hewan di Bumi dari kehancuran. Demikian juga, dalam Daftar Raja Sumeria, ada catatan tentang banjir besar: “banjir yang menyapu bumi.”
Daftar raja Sumeria menyediakan daftar delapan raja (beberapa versi memiliki 10) yang memerintah untuk jangka waktu yang lama sebelum banjir, mulai dari 18.600 sampai 43.200 tahun. Hal ini mirip dengan Kejadian 5, di mana generasi dari Penciptaan sampai Air Bah dicatat. Menariknya, antara Adam dan Nuh ada delapan generasi, seperti ada delapan raja antara awal kerajaan dan banjir di Daftar raja Sumeria.
Setelah banjir, Daftar Raja mencatat raja yang memerintah untuk jangka waktu yang jauh lebih singkat. Dengan demikian, Daftar raja Sumeria tidak hanya mendokumentasikan banjir besar awal sejarah manusia, tetapi juga mencerminkan pola yang sama penurunan umur panjang seperti yang ditemukan dalam Alkitab – laki-laki memiliki umur yang sangat panjang membentang sebelum banjir dan hidup dengan jangka waktu yang relatif lebih singkat setelah banjir (Wood, 2003). Sedangkan mengenai legenda banjir-banjir besar dari seluruh dunia dapat dibaca disini
Daftar raja Sumeria benar-benar adalah misteri yang membingungkan. Mengapa Sumeria menggabungkan penguasa mitos dengan penguasa yang benar-benar ada dalam sejarah yang sebenarnya dalam satu dokumen? Mengapa ada begitu banyak kesamaan dengan Genesis? Mengapa raja-raja kuno digambarkan sebagai penguasa selama puluhan ribu tahun? Ini hanya beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab setelah lebih dari satu abad penelitian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...