Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Kanal Terpanjang di Dunia Ini Panjangnya Hampir 2 Kali Pulau Jawa


Grand Canal adalah serangkaian saluran air di Cina timur dan utara mulai dari Beijing dan berakhir di kota Hangzhou di provinsi Zhejiang, yang menghubungkan Sungai Kuning dengan Sungai Yangtze. Membentang sekitar 1.800 km, ini adalah jalur air (waterway) buatan terpanjang di dunia, dan merupakan salah satu proyek teknik sipil terbesar dan paling ekstensif di dunia sebelum Revolusi Industri.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Pada puncaknya, grand canal memiliki panjang lebih dari 2.000 km, yang menghubungkan lima DAS (daerah arus sungai) utama Cina. Kanal ini dibangun untuk memungkinkan pengangkutan surplus hasil pertanian dari Yangtze dan lembah sungai Huai yang kaya akan pertanian, untuk memberi makan ibu kota dan pasukan besar di Cina utara. Sejak itu, ia telah memainkan peran penting dalam memastikan perdagangan dan pertukaran budaya antara wilayah utara dan selatan Cina dan masih digunakan sampai sekarang sebagai sarana utama komunikasi.


Kanal ini dibangun di daerah yang berbeda dalam periode yang berbeda, mulai dari abad ke-5 SM, tapi ibaru pada abad ke-7 ekspansi besar-besaran dilakukan, di bawah arahan Kaisar Yang dari dinasti Sui, membuat kanal menjadi menjadi lebih besar dan panjang seperti yang dikenal saat ini. Kaisar Yang membutuhkan cara untuk memindahkan beras dari daerah yang subur di sekitar Sungai Yangtze untuk memberi makan ibukotanya dan pasukannya yang terus-menerus memerangi suku-suku nomaden.
Lebih dari 3 juta petani dipaksa bekerja membangun kanal tersebut, diawasi oleh ribuan tentara. Proyek ini selesai dalam waktu enam tahun, tetapi pada saat itu, sekitar setengah dari pekerja mati kelelahan karena kerja berat dan kelaparan. Tetapi terlepas dari semua kekejaman itu, kanal terbukti sangat diperlukan untuk pergerakan persediaan makanan. Pada tahun 735, hampir 150 juta kilogram hasil pertanian dikirimkan setiap tahun sepanjang kanal. Barang-barang lainnya, mulai dari kapas hingga porselen, juga diperdagangkan, membantu berkembangnya perekonomian China.


Ketika dinasti Mongol Yuan (1271-1368) memindahkan ibukota Cina ke Beijing, maka kebutuhan lengan kanal untuk mencapai barat ke Kaifeng atau Luoyang pun hilang. Sebuah jalur pintas dibuat di provinsi Shandong yang memperpendek panjang Grand Canal sebanyak 700 km, dan membentuk rute kanal saat ini.
Di tengah dinasti Ming (1368-1644) kanal itu dirombak, dan lima belas pintu air dibuat di Shandong barat. Pada saat ini pasukan transportasi kekaisaran telah berkembang menjadi 15.000 kapal dan mempekerjakan 160.000 tentara yang menyediakan tenaga untuk menarik tongkang yang bermuatan bila diperlukan. Perbaikan berturut-turut pada kanal memungkinkan para penguasa untuk lebih mudah melakukan tur inspeksi kepemilikan mereka ke selatan, memungkinkan kontrol yang lebih besar dari wilayah mereka.
Pembangunan kanal menyebabkan banyak inovasi teknik yang luar biasa. Pada tahun 587, gerbang air pertama di dunia diciptakan oleh insinyur Liang Rui di zaman Dinasti Sui untuk salah satu bagian asli kanal di sepanjang Sungai Kuning; lalu pada tahun 984, komisaris transportasi bernama Qiao Weiyo menciptakan pintu air pertama di dunia untuk Grand Canal (pintu air yang sering terlihat pada kanal-kanal dan terusan modern bahkan hingga hari ini).
Ketika kereta api telah muncul, kanal secara bertahap menjadi tidak digunakan dan rusak. Saat ini, hanya bagian dari Hangzhou ke Jining yang dilayari. Bagian tengah dan selatan juga terpelihara dan digunakan terutama untuk mengangkut batubara dari tambang di provinsi Shandong dan Jiangsu. Bagian lain dari Grand Canal telah pendangkalan dan penumpukan lumpur dan bagian utara telah kering.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...