Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Yoetefa-Papua Dilanda Kriminal, 2 Anggota Polisi Menjadi Korban

Jayapura (2/7) – Papua kembali dilanda kriminal, 2 anggota polisi atas nama Brigpol Hasriadi dan Brigpol Syamsul Huda menjadi korban sekelompok orang tak dikenal di area pasar Yoetefa – Abepura.

Secara kronologis, kejadian bermula sekitar pukul sembilan pagi saat kedua anggota polisi tersebut melaksanakan patroli bermotor di area Tanah Hitam - Pasar Youtefa. Mereka mendapat laporan dari warga pasar mengenai kegiatan perjudian dadu sekelompok orang yang belum lama hadir, yang berjumlah lebih dari 100 orang. Para warga melaporkan bahwa para pelaku dan kegiatan perjudian tersebut sungguh membuat mereka resah. Selain itu, mereka juga melaporkan bahwa para pelaku perjudian tersebut juga menyebarkan selebaran yang berisi seruan untuk memboikot kegiata Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 09 Juli mendatang.

Berdasarkan laporan tersebut, sekitar pukul 15.30 kedua anggota polisi tersebut berinisiatif mendatangi lokasi. Mereka berangkat menggunakan sebuah kendaraan roda dua secara berboncengan.

Saat mereka tiba di lokasi, respon para pelaku perjudian yang seharusnya menghormati kedua polisi yang sedang melaksanakan tugasnya, sungguh di luar dugaan. Sebagian dari mereka melarikan diri, namun sebagian lainnya malah melakukan perlawanan. Dalam waktu yang singkat, sungguh naas kedua polisi tersebut telah dianiaya dan ditikam dengan senjata tajam. Tidak cukup hanya itu, mereka merampas 1 pucuk senjata SS1 milik kedua polisi tersebut dan melarikan diri ke arah perbatasan RI-PNG.

Mendengar kejadian tersebut, pihak Polisi dibantu anggota TNI wilayah setempat melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Sementara kedua polisi yang yang menjadi korban dan dalam keadaan terluka parah segera dilarikan menuju Rs. Bhayangkara. Dalam perjalanan, Brigpol Hasriadi kehabisan darah dan tak mampu menahan nafas terakhirnya, sedangkan Brigpol Syamsul Huda dalam keadaan semakin kritis.


Kejadian ini sungguh sangat-sangat disayangkan, terutama dalam momen bulan suci ramadhan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

YANG DITINGGALKAN MANUSIA

Robi dan Kaleb dong dua sama-sama kelas 4 SD. Begini dong baru dapat pelajaran Bahasa Indonesia tenntang peribahasa. Waktu pulang sekolah, dong dua main tebak-tebakan pake peribahasa. Robi  : "Kaleb, ko tau kah tidak arti dari peribahasa ini ?" Kaleb : "Peribahasa apa...?" Robi : "Kalo gajah mati meninggalkan apa ?" Kaleb : "Gading too.." Robi : "Kalo Harimau mati, meninggalkan apa ?" Kaleb : "Pasti meninggalkan... belang," Robi : "Trus kalau manusia, mati meninggalkan apa?" Kaleb : "Pasti... meninggalkan nama too!" Robi : "Salah....!!" Kaleb : "Trus.. dia pu jawaban, apa?" Robi : "Kalo manusia mati... pasti meninggalkan dia pu bapa, mama, kakak, om, tante, bapade, mamade, bapatua, mama tu, nene, tete..."

Ini Perusahaan Tiongkok yang Ingin Bangun Smelter Papua

Jakarta — Papua Center : Sebuah perusahaan Tiongkok disebut ingin membangun pabrik pengolahan dan pemurnian alias smelter tembaga di Papua. Nama perusahaan itu disebut Non-Ferrous China Company (NFC). Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, R. Sukhyar mengatakan Non-Ferrous China Company (NFC) adalah investor yang bakal digandeng pemerintah daerah Mimika, Papua, untuk membangun smelter tersebut. Tapi Sukhyar menegaskan, jika NFC ingin terlibat dalam proyek smelter, perusahaan Tiongkok itu harus memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Khusus. “Jadi kewenangannya ada di bawah kementerian ESDM. Yang pasti mereka bukan IUI (Izin Usaha Industri),” ujar Sukhyar di Jakarta, Senin (2/3/2015). Sukhyar menerangkan, proyek smelter tembaga di Papua akan memiliki kapasitas daya serap konsentrat 900 ribu ton per tahun.  Rencananya, pasokan konsentratnya sendiri berasal dari hasil pertambangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia di daerah Mimika. ...