Langsung ke konten utama

Pilkada 2018, Kapolres Mappi Kunjungi Panwaslu dan Harap Tercipta Sinergitas Yang Terbaik

Jangan Paksa Aparat Bertindak Tegas

Src : Kompasiana.Kondisi Papua meskipun secara umum dirasa damai, namun selalu saja ada isu yang tersebar bahwa Papua  merupakan daerah yang sering dilanda konflik, kekerasan dan penganiayaan. Ditinjau dari apa yang terjadi, mungkin saja hal tersebut memang benar, namun mungkin juga tidak.

Salah satu isu yang sering didengung-dengungkan adalah pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang dilakukan aparat TNI dan Kepolisian terhadap masyarakat Papua. Untuk melihat banyaknya isu tersebut, setidaknya dengan mudah dapat dilihat melalui media-media berita dan sosial di internet. Coba saja lakukan pencarian dengan keywords “Pelanggaran HAM TNI-Polri di Papua”. Sebagai contoh, salah satuweb yang memuat isu tentang hal tersebut bisa dilihat di link berikut :
http://holandianews.blogspot.com/2014/02/west-papuans-beaten-and-had-guns-held.html
Artikel pada link tersebut tertulis dengan judul “West Papuan’s beaten and had guns held to head in military operation”. Selain link tersebut, salah satu web lainnya yang menyebarkan isu tersebut juga dapat dilihat di link berikut :
Pada web di link tersebut, tertulis berita dengan judul “PELANGGARAN HAM DI TANAH WEST PAPUA”.

Kedua web tersebut berisikan artikel yang menyudutkan TNI maupun Polri sebagai aparat keamanan yang sedang bertugas di Papua. Dalam tulisannya, tertulis seolah-olah aparat keamanan yang sedang bertugas di sana merupakan instansi-instansi yang sedang melakukan pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua, namun nyatanya tidak demikian. Semua itu hanya isu dan opini yang sengaja dibuat untuk menggiring pemahaman para pembaca terhadap apa yang mereka tulis. Apa yang para penulis tersbut lakukan tidaklah aneh, karena media internet merupakan media umum, sehingga siapapun dengan mudah dapat menulis apa saja yang diinginkannya, apapun motif yang melatarbelakanginya.
Apa yang sebenarnya terjadi di Papua ? Benarkah semua isu yang selama ini tersebar ? Siapakah pihak yang kerap menyebarkan isu tersebut ? Apa motif mereka ? Benarkah aparat TNI dan Polri di Papua sering melakukan pelanggaran HAM dan penindasan terhadap masyarakat Papua ? Mari kita coba teliti dengan hati dan fikiran yang jernih.


Melihat Secara Jernih Atas Isu Pelanggaran HAM di Papua

Apa yang terjadi di Papua, bukanlah pelanggaran HAM dan penindasan yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap rakyat Papua. Semua itu hanyalah isu yang diputarbalikkan di atas fakta yang sebenarnya terjadi. Entah apa motif yang melatar belakangi mereka, namun yang jelas apa yang mereka lakukan bukanlah suatu perbuatan yang baik, justru hanya akan menimbulkan banyak dampak negatif.
Isu mengenai penembakkan dan foto-foto yang tersebar, mungkin saja hal itu memang benar. Namun apa yang mereka katakan sebagai penindasan atau pelanggaran HAM, hal tersebutlah yang menjadi masalah dan perlu dipertanyakan. Isu-isu tersebut hanyalah pemutarbalikan fakta saja. Kalaupun memang ada hal tersebut terjadi, mungkin saja hal tersebut dilakukan secara personal oleh oknum TNI ataupun Polri. Sungguh tidak etis bila hal tersebut digeneralisir menjadi isu pelanggaran HAM yang dilakukan TNI dan Polri yang mempunyai tugas mulia, memberikan pelayanan keamanan bagi masyarakat Papua.
Untuk membuktikan hal tersebut, ada baiknya saya mengutip beberapa pernyataan Mayjen TNI Christian Zebua, M.M. selaku Pangdam XVII/Cenderawasih (Pimpinan tertinggi jajaran TNI di Papua) dan Irjen (Pol). Drs, Tito Karnavian M.A. selaku Kepala Kepolisian Daerah Papua (Pimpinan tertinggi jajaran kepolisian di Papua). Berikut beberapa pernyataan beliau berdua dalam beberapa media internet.


Pernyataan Mayjen TNI Christian Zebua, M.M.

“Saya sudah perintahkan seluruh anggota agar siaga dan waspada serta bertindak tegas bila ada kelompok bersenjata yang ingin menganggu jalannya pilpres,”. Pernyataan tersebut dimuat web www.intelijen.co.id tanggal 06 Juli 2014 kategori militer. Pernyataan yang sama pun dimuat di web antaranews.com pada hari yang sama.
“Kita sudah bekerja keras , tunggu saja hasilnya nanti, kan sudah kita buktikan, bagaimana di Puncak, mereka tidak tobat, ya mereka kita tindaki sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, dan ini berlaku bagi semua kelompok yang mengancam keamanan baik itu masyarakat setempat dan juga kesatuan NKRI,” Pernytaan tersebut dimuat di web suluhpapua.com tanggal 14 April 2014.


Pernyataan Irjen (Pol). Drs, Tito Karnavian M.A.

“Dalam mengantisipasi hal tersebut, kami dari Polda Papua akan mengambil langkah secara persuasive kecuali jika ada kelompok-kelompok yang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan aturan hukum,” dan “Pasti ada langkah tegas yang kami lakukan jika ada kelompok-kelompok atau mengganggu Negara RI,” Kedua pernyataan tersebut dimuat di web bintangpapua.com tanggal 19 Juni 2013.
Beberapa pernyataan yang telah dikutip di atas, cukup mudah kiranya bagi para pembaca untuk menilai terhadap kebijakan kedua pimpinan tertinggi jajaran TNI maupun Polri dalam melaksanakan tugasnya. Beliau berdua, memimpin para prajurit dan bawahannya untuk menjaga keamanan di Papua. Pernyataan beliau berdua tersebut berkaitan dengan gangguan-gangguan keamanan yang kadang terjadi di wilayah Papua, yang terkadang dilakukan oleh sekelompok kecil warga Papua bersenjata dalam rangka mengganggu keamanan. Terkait hal tersebut, jelas dari pernyataan beliau berdua bahwa TNI dan Polri akan menindak tegas bagi siapapun yang mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat dan NKRI serta yang bertindak tidak sesuai dengan aturan. Selain itu, jelas dari pernyataan beliau berdua juga bahwa tindakan yang akan diambil baik oleh TNI maupun Polri terhadap para pengganggu dan pengacau keamanan, akan ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku.
Terkait pernyataan kedua pimpinan tersebut dengan isu tentang pelanggaran HAM oleh aparat yang terjadi di Papua, dengan mudah kita dapat menganalisisnya. Isu-isu yang disebar tidak lain hanyalah pemutarbalikan fakta semata. Fakta yang sebenarnya mengenai isu-isu tersebut adalah aparat TNI dan Polri yang sedang bertugas, terpaksa bertindak tegas terhadap para pengganggu keamanan yang tidak bisa diajak persuasif. TNI dan Polri tidak mungkin melakukan tindakan tanpa sebab. Tindakan apapun yang diambil oleh para prajurit TNI maupun Polri ketika bertugas, pasti semua sudah diperhitungkan dan disesuaikan dengan hukum yang berlaku, terlebih bila harus terpaksa melakukan penembakkan terhadap pengganggu keamanan. Kalaupun memang ada suatu tindakan yang dilakukan oleh anggota TNI ataupun Polri yang tidak sesuai hukum, sudah tentu hal tersebut hanya bersifat personal oleh oknum TNI dan Polri saja, bukan atas nama instansi. Pernyataan kedua pimpinan TNI dan Polri sudah jelas beliau berdua tidak sedikitpun memerintahkan anggotanya untuk bertindak semena-mena, terlebih harus melanggar HAM. Oleh karena itu, sekelompok warga Papua yang kini masih bermotivasi untuk mengganggu keamanan di Papua, sudah selayaknya tidak memaksa aparat bertindak tegas terhadap mereka. (BM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Kebangsaan West Papua, Hai tanah ku Papua (lirik)

Oleh: Moses Douw Hai tanah ku Papua, Kau tanah lahirku, Ku kasih akan dikau sehingga ajalku. Kukasih pasir putih Dipantaimu senang Dimana Lautan biru Berkilat dalam terang. Kukasih gunung-gunung Besar mulialah Dan awan yang melayang Keliling puncaknja. Kukasih dikau tanah Yang dengan buahmu Membayar kerajinan Dan pekerjaanku. Kukasih bunyi ombak Yang pukul pantaimu Nyanyian yang selalu Senangkan hatiku. Kukasih hutan-hutan Selimut tanahku Kusuka mengembara Dibawah naungmu. Syukur bagimu, Tuhan, Kau berikan tanahku Beri aku rajin djuga Sampaikan maksudMu. watching here   source: http://phaul-heger.blogspot.com/2012/02/lagu-kebangsaan-hai-tanahku-papua.html

Mob Papua : Nene vs Cucu

Nene dan cucu laki-laki duduk cerita-cerita : Cucu :  " Nene katanya laki dan perermpuan itu tdk boleh tidur sama-sama ka ? Nene : "  Iyo...to Bahaya skali Cucu  : " kenapa jadi ? Nene :" Karena dilarang agama kecuali dong 2 su nikah, nti kalu hamil bagaimana ? Cucu : " Oh..klu bapak dan mama tidak apa2...ee........klu begitu sya sekarang malas tidur lagi dengan nene. Nene : " Bah...knapa jdi ko sudah tdk mau tidur lagi dengan nene ? Cucu : " malas saja to....!!......nanti  nene ko hamil lagi........... hahahah...dilarang senyum2.../////????????.

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda atau Cenderawasih

“Melelahkan”, itu kata yang saya ucapkan ketika seorang teman kampus saya bertanya pendapat saya tentang konflik di Papua. Pertanyaan tersebut saya pikir wajar terucap melihat tersebarnya berita kembali beraksinya OPM, atau yang selalu dibahasakan sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)” yang dianggap merongrong kedaulatan Indonesia di Papua, dan ketika ada wanita Papua berada di jantung wilayah Indonesia, yaitu di Pulau Jawa, maka pertanyaan-pertanyaan mungkin akan muncul. Apakah di hati saya “merah-putih” atau “bintang kejora”? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Apakah saya merayakan 17 Agustus atau 1 Desember? Apakah saya memilih Garuda atau Cenderawasih? Memang tidak ada pertanyaan eksplisit mengenai hal tersebut, tapi pertanyaan-pertanyaan “menjurus” untuk mengetahui apa pilihan saya dalam konflik di Papua pernah dilontarkan beberapa teman saya. “Kau beruntung tidak lahir di daerah konflik” kata saya dalam hati bila ada pertanyaan yang “menjurus” ters...